in

Apakah MSG (Micin) menyebabkan kebodohan?

Erapee – Isu MSG menjadi penyebab kebodohan bagi generasi jaman sekarang santer dibicarakan. Tidak habis-habisnya MSG(micin) disebut sebagai biangkeladi dari keterlambatan berfikir generasi muda. Hingga bermunculan istilah “generasi micin”. Namun, apakah benar MSG menyebabkan kebodohan? Faktanya, MSG ada dalam hampir setiap sajian makanan yang kita konsumsi. Tidak hanya generai muda, bahkan nenek moyang kita pun sudah mengkonsumsinya. Penasaran? Simak ulasan berikut

Definisi MSG

Sumber Gambar : laboratuvar.com

Dilansir dari “Food Standart Australia New Zealand tahun 2003”, MSG (Monosodium Glutamat) merupakan garam sodium dari salah satu asam amino non-esensial asam glutamat, yang berfungsi sebagai penguat dan penyedap rasa jika ditambahkan pada makanan, terutama makanan yang mengandung protein. Komposisi senyawa MSG adalah 78% glutamat, 12% natrium, dan 10% air. Efek sebagai penguat rasa dari MSG yang ditambahkan ke berbagai produk makanan serupa dengan efek yang ditimbulkan oleh glutamat yang terdapat secara alami dalam bahan makanan. Yang mana mampu memberikan tambahan terhadap cita rasa yang kelima selain rasa manis, asin, dan pahit yaitu dikenal dengan umami atau rasa lezat/enak. MSG dikonsumsi secara luas dalam bentuk L-glutamic acid. Dalam kehidupan sehari-hari MSG hampir selalu digunakan oleh semua kalangan.

Komposisi senyawa MSG adalah 78% glutamat, 12% natrium, dan 10% air

Sejarah MSG

tahun 1963 Jepang bersama Korea mempelopori produksi masal MSG yang kemudian berkembang ke seluruh dunia

Jurnal Chemistry Senses tahun 2002 menyebutkan, MSG mulai terkenal pada tahun 1960-an. Penemuan MSG diawali dengan rasa penasaran bahwa orang Jepang mampu menyajikan cita rasa masakan yang sangat lezat. Hingga pada tahun 1908, seorang profesor dari Universitas Tokyo mampu menemukan kunci kelezatan tersebut yakni pada kandungan asam glutamat. Sejak penemuan tersebut, Jepang mulai memproduksi asam glutamat melalui ekstraksi dari bahan alamiah. Tetapi, karena permintaan yang terus melonjak pada tahun 1956 mulai ditemukan cara memproduksi L-glutamic acid melalui fermentasi. L-glutamic acid inilah inti dari MSG, yang berbentuk butiran putih mirip garam. Selanjutnya, sejak tahun 1963 Jepang bersama Korea mempelopori produksi masal MSG yang kemudian berkembang ke seluruh dunia. Di Indonesia sendiri MSG dibuat dari berbagai tetes tebu (molaes) dengan fermentasi oleh bakteri Micrococcus glutamicus.

Awal mula kontoversi MSG

Sumber Gambar : berrykitchen.com

Mulanya MSG dikelompokkan dalam kategori bahan tambahan makanan yang aman dan tidak perlu aturan khusus dalam penggunaannya. Namun, pada tahun 1968 muncul laporan di New England Journal of Medicine tentang keluhan beberapa gangguan setelah makan di restoran China sehingga disebut “Chinese Restaurant Syndrome”. MSG diduga kuat sebagai penyebabnya karena komposisinya yang dianggap signifikan. Tahun-tahun berikutnya semakin banyak bermunculan laporan-laporan tentang hubungan MSG dengan Chinese Restaurant Syndrome. Hingga pada tahun 1986, Advisory Committe on Hypersensitivity to Food Constituent di FDA dan didukung oleh laporan dari European Communities (EC) menyatakan bahwa umumnya MSG aman dikonsumsi, tetapi dapat menimbulkan reaksi jangka pendek pada sebagian orang. Untuk itu FDA menetapkan batasan pasti untuk konsumsi MSG.

Kontroversi MSG saat ini

Akhir-akhir ini MSG menjadi bahan perbincangan yang ramai dibicarakan. Perubahan jaman mengubah pula pola hidup manusia, termasuk halnya dalam segi makanan. Makanan yang mengandung MSG sering kali dikaitkan mengubah kesehatan dan pola berfikir seseorang. Sejauh ini, memang belum banyak penelitian langsung terhadap manusia. Hasil penelitian melalui hewan uji masih bervariasi, dan sebagian menunjukkan efek negatif. Namun disepakati bahwa usia anak-anak atau masa pertumbuhan lebih sensitif terhadap efek MSG daripada kelompok dewasa.

Efek MSG terhadap manusia

Menurut New England Journal  of Medicine terkait laporan “Chinese Restaurant Syndrome”,keluhan yang dirasakan meliputi rasa terbakar di dada, bagian belakang leher, dan lengan bawah, sakit kepala, mual, jantung berdebar-debar, sulit bernafas, dan mengantuk. Sedangkan pada beberapa hewan uji MSG menyebabkan berbagai efek patologis seperti terganggunya sistem hormonal, neurotoksik, nefrotoksik, hepatotoksik, obesitas, gangguan penglihatan, dan gangguan pencernaan. Pemberian MSG secara kronis atau berlebihan tentunya akan memberikan dampak yang berbeda terhadap setiap orang.

Sebenarnya, asam glutamat juga diproduksi dalam tubuh manusia, yakni diproduksi oleh neuron dalam tubuh dan berperan sebagai neurotransmitter. Namun, akumulasi glutamat dalam jumlah berlebih pada sel saraf mampu mneyebabkan terjadinya overstimulasi reseptor glutamat, neuron, dan otak secara keseluruhan. Pada konsumsi MSG, asam glutamat bebas yang dihasilkan akan terikat di usus dan selebihnya akan dilepaskan ke dalam darah dan selanjutnya akan menyebar ke seluruh tubuh. Asam glutamat bebas ini bersifat eksitotoksik yang akan dapat merusak neuron bila sudah melebihi kemapuan otak untuk mempertahankan dalam kadar rendah.

Bijak dalam penggunaan MSG

Memilih menggunakan MSG atau tidak adalah pilihan masing-masing pribadi. Namun yang pasti keberadaan MSG akan sangat sulit dihindari, sebab saat ini penggunaan MSG telah menyebar luas di kalangan masyarakat. Tidak terkecuali makanan yang sering kita beli di luar sana pastilah mengandung MSG di dalamnya. Penggunaan MSG dalam batas kadar yang wajar tidaklah salah, sama halnya dengan penggunaan garam. Bahkan, pada tahun 1996 di Indonesia atas himbauan WHO penggunaan MSG dapat dijadikan alternatif dalam menurunkan konsumsi garam (sodium) yang berkaitan dengan hipertensi khususnya pada golongan manula. Hal ini karena untuk mencapi efek rasa yang sama, MSG hanya mengandung 30% natrium dibanding garam.

Yang perlu Anda ketahui adalah seringkali makanan kemasan yang kita beli tidak mencantumkan MSG secara jelas. Namun sebenarnya banyak nama lain dari komposisi tersebut yang mengandung MSG seperti : penyedap rasa, hydrolized protein, yeast food, natural flavoring, modified starch, textured protein, autolyzed yeast, seasoned salt, soy protein, dan istilah-istilah lain sejenis. Akibatnya, kadar asam glutamat sesungguhnya seringkali tidak dicantumkan.

Sebenarnya hampir semua bahan makanan sudah mengandung glutamat. Beberapa diantaranya adalah susu, telur, daging, ikan, ayam, ketang, jagung, tomat, brokoli, jamur, anggur, kecap, saus, dan keju. Termasuk dalam hal ini bumbu-bumbu penyedap alami seperti vanili atau pandan. Sesuai hasil penelitian untuk batasan metabolisme (30 mg/kg/hari) berarti rata-rata dalam sehari dibatasi penambahan maksimal 2,5 – 3,5 g MSG (berat badan 50 -70 kg), dan tidak boleh dalam dosis tinggi sekaligus.

Apakah MSG menyebabkan kebodohan?

Kebodohan atau keterlambatan berfikir akibat MSG seperti yang diisukan saat ini bisa dikatakan tidaklah 100% benar. Untuk mengetahui rincinya sebenarnya diperlukan penelitian mendalam. Namun, jika kita mau berfikir secara logis selama konsumsi MSG masih dalam batas wajar atau sesuai anjuran yang ditetapkan pastilah masih aman bagi tubuh. Tentunya efek yang terjadi pada tubuh setiap orang akibat konsumsi MSG berbeda-beda. Mungkin dalam benak kita masih timbul kekhawatiran akan efek jangka panjang dari MSG. Sebagai solusinya, Anda bisa beralih ke penyedap rasa alami.

What do you think?

Written by erapee

Erapee.com adalah media dan sarana belajar yang dituangkan dalam tulisan-tulisan sederhana dan inspiratif. Erapee.com memberikan wadah bagi para penulis untuk mengingat kembali apa yang mereka pelajari dengan cara menuliskannya.

Comments

Leave a Reply

GIPHY App Key not set. Please check settings

Loading…

0

Bagaimana cara mengingat mimpi kita?

Manfaat puasa bagi kesehatan tubuh, yang Harus Anda ketahui